instagram twitter facebook google+ tumblr

Aulia's Story

  • Home
  • About
  • Sitemap
  • Blog
    • Jajan
    • Jalan-Jalan
    • Story
  • Beauty
  • K-Things
  • Review
  • Tutorial
Your Secret Admirer


Memang sudah menjadi kebiasaan jika saat Hari Raya Idul Fitri, keluargaku selalu datang ke kampung halaman Ibu dan Bapak, yaitu kota Garut.Tapi Lebaran kali ini terasa berbeda untukku. Aku sendiri tak tahu apa aku harus senang atau sedih. Ini kisahku di kota Intan.

Seperti biasa, setelah selesai shalat Ied, kami berkumpul di rumah bertingkat dua yang di kamar mandinya masih ada sumur yang berfungsi sebagai sumber air. Dulu rumah ini belum semeriah sekarang. Dulu masih ada anyamannya, sekarang sudah ditembok dan dicat warna-warni. Jika ada di sini, bukan kami yang berkeliling dari rumah ke rumah lain untuk bersilaturahmi tapi para tetanggalah yang datang ke sini.

Saat itu aku sedang memakan kue khas lebaran di kursi panjang bersama dengan kaka-kaka sepupuku. Lalu aku naik ke lantai 2 yang menjadi kamar sementaraku selama ada di Garut untuk merapikan kerudungku, siapa tahu ada dia (tetangga sebelah) yang datang ke sini untuk bersalaman. Biasanya dia datang. Dia sempat menyatakan perasaannya kepadaku.

Lalu terdengar suara ramai di lantai 1. Dan ku yakin pasti ada yang datang ke rumah Nenek. “Ieu saha? Meni kasep kieu.” terdengar suara Ibuku. Aku langsung terburu-buru ke bawah untuk melihat siapa yang datang. Saat melihat siapa yang datang aku kaget. Kukira tetangga sebelah.
“Eh Aul.” Sapanya.
“Eh ka Maman. Kok ada disini?” Tanyaku karena bingung. Ini tahun pertama aku melihat dia datang ke rumah Nenekku. Untuk apa? Tanyaku dalam hati.
“Ini tadi diajak si Ua. Katanya disini rame.” Jawab dia sambil menunjuk Wa Imin.
“Ua? Jadi kita teh sodaraan?”
Dia nyengir.
“Eh ai De Lia. Si Maman teh sodara Ua. Biasana teu acan kantos ka Garut, nembe ayeuna ka Garutna. Bade ninggal marmot saurna.” Wa Imin menjelaskan.
“Oh.” Jawabku singkat.
“Kenal gitu sama Maman?” Tanya Ibu.
“Iya. Kaka kelas.”
“Oh, sekolah di Bogor?” Tanya Ibu ke ka Maman.
“Iya Bu. Satu sekolah sama Aul.”
“Eh Aul Aul, Lia gitu.” Ibuku tak suka jika ada yang memanggilku Aul. Ibu lebih suka jika ada yang memanggilku Lia.
“Oh iya Lia hehe.”

Lalu kami semua makan ketupat yang sudah dibuat Ibu dan Ua-ua lainnya. Aku makannya sedikit, grogi soalnya ada ka Maman. Padahal laper. Abis makan semuanya pada ngobrol lagi, cucu-cucunya Nenek pada nonton. Aku bosen nonton mulu terus aku keluar duduk di kursi sambil dengerin musik.
“Aul. Eh Lia.” Kudengar suara yang memanggilku. Dan kutengok ke sebelah kiri ada ka Maman lagi duduk disamping aku.
“Eh ka.” Ucapku sambil melepas earphone.
“Kamu sering ke Garut de?”
“Iya ka tiap taun. Kaka teh sodaranya Wa Imin?” Tanyaku lagi karena masih tak percaya.
“Iya de. Si Mamah sodara iparnya Wa Imin.”
“Kok ngga ikut Mamahnya?”
“Itu bantuin motong marmot. Mau disate.”
“Ih boong.”
“Beneran. Kan kelincinya udah gaada, jadi gantinya marmot.”
“Ih kasian.”
“Iya kasian, kaka capek. Kemaren pas denger mau dipeuncit pada kabur marmotnya.”
“Ih ngga mau temenan ah. Jahat. Marmut kan kecil. Apanya yang mau dimakan coba?”
"Biarin ngga temenan juga kan sodaraan."
"Oh iya bener."
“Haha kamu mah percaya wae de. Ya engga atuh. Si Mamah pengen istirahat dulu ceunah. Kan baru nyampe kemaren.”
“Huh, iya iya.”
“Ngga nyangka ih kita teh sodaraan.”
“Iya sama. Padahal, I’m your secret admirer”
“Hah? Bohong.”
“Beneran.”

Kamu tahu? Sebenarnya aku adalah pengagum rahasia ka Maman sejak aku lulus dari sekolah itu. Apa ya yang aku kagumi dari dia? Yang pertama, dia kayak Dilan. Kamu tau siapa Dilan? Kalo belum tau, yaudah baca dulu ya novel Pidi Baiq yang judulnya gini "Dilan : Dia Dilanku tahun 1990". Di Gramed masih banyak kok. Atau mau minjem? Boleh. Bilang aja yak.

Aku satu-satunya follower dia. Aku suka sama semua cerita dia. Unik. Gaya bahasanya khas. Mungkin dia sama kayak aku pecinta sastra. Aku ngga tahu. Ngga pernah nanya. Mungkin nanti aku tanya.

Orang bilang pengagum rahasia itu biasanya punya cinta terpendam. Kalo aku engga. Dia udah punya pacar. Mereka couple. Yaiyalah. Aku ngga berniat buat milikin dia. Engga. Aku cuma kagum aja. Selain pinter nulis, dia juga ternyata pinter edit foto. Bukan edit foto alay ya. Ya mungkin bisa dibilang desainer grafis. Mungkin. Dia juga baik. Pas aku ulang tahun. Dia ngucapin lewat bbm, padahal aku ngga terlalu kenal dia.

Ya, aku cuma suka kepoin facebook. Like status. Udah gitu aja. Tapi kamu tau, aku seneng ngelakuin hal itu. Maklum, secret admirer.

"Iya beneran. Untung kita sodara. Aku jadi berani bilang." Ucapku melanjutkan.
"Dari kapan?"
"Engga tau aku juga hehe."
"Hehe makasih. Berasa jadi artis."
"Hehe."
"Kamu masih suka nulis?"
"Iya masih ka. Aku pengen nyoba ngasih naskah cerita aku ke penerbit soalnya ada banyak cerita aku di laptop. Tapi belum berani."
"Kenapa?"
"Malu lah. Tulisan masih acakadut gitu."
"Kata siapa?"
"Kata aku."
"Itu kan kata kamu. Kamu ngga bakal tau kalo kamu ngga pernah nyoba."
"Nanti deh."

"De Lia mau ngebaso ga?" Tanya Teh Bunga.
"Iya sebentar teh Bunga. Duluan aja."

Dan seabring cucu-cucunya Emak (Nenek) pada jalan menuju baso Bu Dede. Baso yang biasa aku beli kalo lagi ada di Garut.

"Mau baso yang enak ga?" Tanya Ka Maman.
"Mau atuh."
"Yuk ngebaso bareng kaka."
"Dimana?"
"Itu di deket Ramayana."
"Ih jauh. Capek ah."
"Eh naik motor. Yuk."
"Oh hayu atuh."

"Wa, konci motor aya dimana? Maman nambut motor nya?" Ucap Ka Maman ke Wa Imin.
"Palay kamana?"
"Ieu, ngabaso sareng Lia caket Ramayana. Sakedap da."
"Oh sok atuh." Ucap Wa Imin sambil ngasih kunci motornya.

Aku sama ka Maman naik motor ke tukang baso yang katanya enak. Di sana dia banyak cerita. Cerita pas ketemu pacarnya, cerita kejadian aneh, cerita pas dulu sekolah. Ah, makin menjadi kekaguman aku.

"Eh, kaka rada nyesel datang ke Garut." Ucapnya di sela-sela cerita.
"Kenapa?"
"Kalo kaka ngga ke Garut kan kaka ngga bakal pernah tau kalo kamu sodara kaka."
"Eh?"
Dia senyum. Maniiiiiiiisssssss banget. IYKWIM.

Aku ngga tahu. Harus seneng atau sedih, ternyata dia sodara aku. Tapi yaudalah, aku udah bilang kan kalo aku pengagum rahasianya ke dia. Ya, walaupun cuma mimpi hahaha.

Ka Maman, You Have a Secret Admirer.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jangan Ngeluh!

Kau tahu, entah mengapa sekarang aku benci melihat seseorang yang mengeluh. Bukan benci sebenarnya. Hanya saja, terkadang jantungku ikut berdetak kencang jika kubaca status yang berisi tentang keluhan. Keluhan positif masih bisa kujaga, tapi jika yang lain? Entah, sepertinya ada api di belakang tubuhku. Emosiku tiba-tiba meningkat dengan sendirinya.

Mungkin dulu akupun sering membuat orang-orang marah padaku dengan beberapa statusku yang mengeluh di jejaring sosial. Tapi sekarang, aku sedang mencoba untuk membuangnya. Hal yang dikeluhkan seperti soal pekerjaan, makanan, cinta, status sosial atau masalah pribadi yang sering kubaca di jejaring sosial atau aplikasi chatting. Itu yang membuatku sedikit kesal. Ya, kupendam dan mengomel sendiri saja pada diri sendiri jika membaca hal itu.

Sebenarnya aku ingin langsung bertanya kepada orang-orang yang membuat status seperti itu. Misalnya soal pekerjaan, "Cape kerja teh, bla bla bla pengen pindah pengen ini pengen itu". Hey, you're the luckiest person. Disaat yang lain masih sibuk nyodorin lamaran kesana kemari, kamu tinggal duduk di tempat kerja. Apalagi kalau masih baru-baru masuk tapi udah ngeluh. Hey young girl/boy, kalian baru sebentar kerja. Pindah dari bangku sekolah ke bangku kerja. Jelas beda kondisinya. Nikmatin, jalanin dulu aja. Let it flow. Ayo, kalian bisa adaptasi,1-2 bulan juga bakal terbiasa.

Yang kedua makanan, "Makan teh cuma sama ini doang bla bla bla". Argh rasanya tuh asdfghjkl banget. Coba pergi ke tempat pembuangan akhir. Lihat. Mau nyari makan aja harus ngubek-ngubek sampah dulu. Kamu punya yang mereka ngga punya. Kamu rasa apa yang ngga mereka rasa. So what? Pengen makanan yang lebih? Yang mahal? Selama makanan kamu halal + bikin sehat. Kenapa malah ngeluhin hal yang aneh sih? Heran.

Yang ketiga cinta, I can't say anything about It. Dulu sering banget ngeluhin hal bodoh ini. Sekarang udah gede udah berumur jadi makin ngerti. Kenapa coba ngeluhin yang kayak gitu. Situ jomblo? Terus? Apa bedanya sama yang taken? Ada pasangannya? Yeah, you're right. Plis deh ngga usah masalahin status jomblonya. Percaya aja sama kata-kata "Jodoh ngga bakal kemana". Yakin, Allah udah punya seseorang yang bakal bersanding sama kamu nanti di pelaminan. Kecuali udah 35an keatas kayaknya emang bener harus masalahin status yang masih sendirinya. Hehe, pisss

Status sosial, hampir samalah kayak makanan. Satu pesan aja nih dari aku, jangan liat ke atas. Tapi liat ke bawah. Udah itu ajalah, udah ngerti kan maksud kata-kata itu.

Sisanya, masalah pribadi. Kayaknya harus liat salah satu posting di kaskus. Tapi lupa judulnya apa. Yang tau kasih tau ye. Jadi ada bunuh diri gara-gara suatu masalah, terus dia lompat dari lantai berapa ya? Misalnya lantai ke 14 deh. Nah, pas dia terjun ke bawah, di setiap kamar tiap lantai dia ngeliat banyak orang yang lagi nyelesaiin masalah yang ternyata lebih parah dari masalahnya dia (lewat kaca). Sampe akhirnya dia jatuh di lantai dasar dan bilang "ternyata masalah aku ngga seberapa dibanding masalah mereka". Ambil kesimpulannya sendiri deh ya.

Haaaa, pokoknya jangan ngeluh deh yaa. Harus banyak bersyukur. Siplah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

CARI

Sponsor

About me

About Me

This is a half of my world. I love writing very much. Writing is my passion, my hobby and a half of my world ♥

Follow Me

  • instagram
  • twitter
  • facebook
  • linkedin
  • google+
  • tumblr

Followers

Total Pageviews

Popular Posts

  • Review Novel Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991
    Yap, kemaren malem jam 10:44 aku baru aja selesai baca novel Dilan yang kedua. Novel karya Pidi Baiq ini emang udah aku tunggu lamaaa ba...
  • Review Novel Milea Suara dari Dilan
    Halo semua, hari ini aku mau review novel lagi. Mungkin dari kalian ada yang udah baca novel Dilan atau judul lengkapnya " Dilan, Di...
  • Tali, Pisau, Ruangan dan Senyuman
    "Bawakan aku tali yang panjang itu!" Rasanya, aku sering mendengar kalimat itu. Alih-alih untuk menggantungkan diriku di atas...

Labels

blog dilan liburan novel pidi-baiq real-story rekomendasi renungan review sharing story tips-trik travel wisata

Blog Archive

  • ►  2022 (31)
    • ►  June (1)
    • ►  April (30)
  • ►  2021 (2)
    • ►  November (2)
  • ►  2020 (6)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2019 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2018 (17)
    • ►  November (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
    • ►  January (3)
  • ►  2017 (10)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2016 (11)
    • ►  December (3)
    • ►  September (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (17)
    • ►  December (1)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (4)
    • ►  January (2)
  • ▼  2014 (9)
    • ►  December (1)
    • ▼  October (2)
      • Your Secret Admirer
      • Jangan Ngeluh!
    • ►  August (1)
    • ►  July (5)
  • ►  2013 (2)
    • ►  March (2)
  • ►  2012 (4)
    • ►  May (2)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2011 (2)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)

Member of

Instagram Twitter Facebook Google+ Tumblr

Created with by BeautyTemplates